Selamat Datang Di Blog Ivan Tahir

Cerpen



Dia Menangis di Emperan 

Satu demi satu langkah kaki terayun menelusuri sudut kota, telinga ini tak henti-hentinya terngiang dengan suara bising kendaraan yang melintasi tiada hentinya di jalur menuju pusat kota, indah memang kota itu jika kita melihatnya dengan mata hati…cuman mata hati ya.. ngak perlu pake mata benaran, karena jika mata benaran, pasti engkau tak mampu melihat apa yang ada di depanmu.. karena di depan ada mereka yang sedang berjuang melawan kerasnya dunia tuk memenuhi hidup mereka.

Pejalan kaki yang menapaki setiap trotoar jalan di kota itu, tukang becak menerapi pedalbecaknya tuk mencari lembaran uang, tukang ojek mengantri menahan teriknya sang surya demi hidupnya, pedagang asongan sedang menjajakan dagangannya demi memenuhi membiayai sekolah anaknya bahkan parahnya lagi begitu banyak insan paru bayah dan anak kecil sedang duduk bersila sambil mengangkat tangnnya yang terbuka tuk mengharapkan pemberiaan orang, ya..mereka adalah pengemis jalanan…
Asyik melintasi di sebuah gang dekat persimpangan jalan kota itu, tiba tiba aku mendengar suara tangis penuh haru dari sala satu sudut ruko, karena penasaran aku mencoba mendekati suara itu, semakin dekat dan dekat lagi, tiba-tiba aku melihat sosok anak kecil yang mungil sedang duduk bersila sambil memegang perutnya yang terlihat begitu kecil… oh tuhan siapakah anak ini, kemana orang tuanya, lalu kenapa dia ada di sini. Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar dalam benakku.. karena kasihan akupun mendekatinya sembari bertanya,
“dek kenapa..kamu kenapa dek” tanyaku sambil duduk di samping si mungil itu
tiba-tiba terdengar suara parau yang tadinya menangis itu menjawab apa yang kutanyakan..
“lapar kak, aku lapar sekali” jawaban yang hampir tak kuasa kudengar
lalu akupun kembali bertanya “dimana orang tuamu, emang kamu tinggal di mana dek”
dia kembali (anak kecil-red) menjawab “orang tuaku tidak ada, aku tinggal di daerah sini kak..”
Sedih rasanya hati ini melihat wajah ayu yang begitu polos menatapku penuh harapan, akupun meraih tangan mungilnya sambil berkata..”sini ikut kakak ya..”
tak harus menunggu lama akupun berjalan sambil menggandengkan tangan mungil itu menuju tempat makan yang ad di sekitar emperan ruko itu.
Mungkin lapar…iya si anak ini benar-benar lapar, aku melihat dia begitu bersemangatnya melahap makanan yang disajikan di hadapannya… suara hatiku mulai meneriaki relung hatiku, ya Tuhan bukankah negeri ini begitu kaya? Bukankah engkau memberikan begitu banyak kekayaan yang melimpa ruah di tanah leluhur kami ini? Tetapi kenapa masih ada yang kelaparan? Mengapa…mengapa Ya Tuhan????
Masih banyak rakyat Indonesia yang bertatih-tatih menelusuri hidup mereka dengan berbagai fenomena yang terselimuti oleh kemiskinan, begitu banyak rakyat yang melatah dan tak mampu berkata-kata karena tak berdaya menahan prahara politik dan kepentingan para elit-elit bangsa… sementara mereka yang di sana (elit bangsa-red) yang hidup penuh kemewahan, penuh kesenangan, berlimpangan harta dan kekayaan. Mereka memperkaya diri mereka dengan mengatas namakan rakyat, menggunakan kepercayaan rakyat untuk memuaskan hidup mereka, berbicara atas nama rakyat, namun mereka tidak pernah sadar bahwa apa yang mereka lakukan, omongin, lihat dan saksikan itu sangat dan amat menyiksa rakyat.
Sebenarnya mereka itu tuli, bodoh tetapi sok pintar atau memang buta? Karena mereka bahkan hampir tak pernah sadar apa yang mereka lakukan… sebenarnya mereka anggap apa ini rakyat.. jadi sakit hati, tetapi nga boleh ngomel kata mereka, karena apa yang aku omelin itu terdengar bodoh. Ngak boleh protes, karena kalau protes pasti di tangkap polisi, ngak boleh dan ngak boleh.. hummmm terpaksa deh menahan sakit ini walau terus sakit hingga ajal menjemputku.. terima kasih ya Penyelenggara Negara yang konon katanya pintar, karena kalian telah membuat kami (rakyat-red) menjadi seperti ini.. semoga tidak ada lagi yang menangis tersedu-sedu di emperan hanya karena menahan lapar. Semoga Tuhan melindungi kalian, agar kalian masih tetap memiliki kesempatan untuk menzdolimi kami lagi, dan semoga kalian masih tetap mencuri dengan mengatas namakan kerja, dan semoga kalian akan mendapat “LAKNAT” dari pemilik jagad ini..amin…


Tidak ada komentar :

Posting Komentar