Dia Menangis di Emperan
Satu demi satu
langkah kaki terayun menelusuri sudut kota, telinga ini tak henti-hentinya
terngiang dengan suara bising kendaraan yang melintasi tiada hentinya di jalur
menuju pusat kota, indah memang kota itu jika kita melihatnya dengan mata
hati…cuman mata hati ya.. ngak perlu pake mata benaran, karena jika mata
benaran, pasti engkau tak mampu melihat apa yang ada di depanmu.. karena di
depan ada mereka yang sedang berjuang melawan kerasnya dunia tuk memenuhi hidup
mereka.
Satu demi satu
langkah kaki terayun menelusuri sudut kota, telinga ini tak henti-hentinya
terngiang dengan suara bising kendaraan yang melintasi tiada hentinya di jalur
menuju pusat kota, indah memang kota itu jika kita melihatnya dengan mata
hati…cuman mata hati ya.. ngak perlu pake mata benaran, karena jika mata
benaran, pasti engkau tak mampu melihat apa yang ada di depanmu.. karena di
depan ada mereka yang sedang berjuang melawan kerasnya dunia tuk memenuhi hidup
mereka.
Pejalan kaki
yang menapaki setiap trotoar jalan di kota itu, tukang becak menerapi
pedalbecaknya tuk mencari lembaran uang, tukang ojek mengantri menahan teriknya
sang surya demi hidupnya, pedagang asongan sedang menjajakan dagangannya demi
memenuhi membiayai sekolah anaknya bahkan parahnya lagi begitu banyak insan
paru bayah dan anak kecil sedang duduk bersila sambil mengangkat tangnnya yang
terbuka tuk mengharapkan pemberiaan orang, ya..mereka adalah pengemis jalanan…
Asyik melintasi
di sebuah gang dekat persimpangan jalan kota itu, tiba tiba aku mendengar suara
tangis penuh haru dari sala satu sudut ruko, karena penasaran aku mencoba
mendekati suara itu, semakin dekat dan dekat lagi, tiba-tiba aku melihat sosok
anak kecil yang mungil sedang duduk bersila sambil memegang perutnya yang
terlihat begitu kecil… oh tuhan siapakah anak ini, kemana orang tuanya, lalu
kenapa dia ada di sini. Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar dalam
benakku.. karena kasihan akupun mendekatinya sembari bertanya,
“dek
kenapa..kamu kenapa dek” tanyaku sambil duduk di samping si mungil itu
tiba-tiba
terdengar suara parau yang tadinya menangis itu menjawab apa yang kutanyakan..
“lapar kak, aku
lapar sekali” jawaban yang hampir tak kuasa kudengar
lalu akupun
kembali bertanya “dimana orang tuamu, emang kamu tinggal di mana dek”
dia kembali
(anak kecil-red) menjawab “orang tuaku tidak ada, aku tinggal di daerah sini
kak..”
Sedih rasanya
hati ini melihat wajah ayu yang begitu polos menatapku penuh harapan, akupun
meraih tangan mungilnya sambil berkata..”sini ikut kakak ya..”
tak harus
menunggu lama akupun berjalan sambil menggandengkan tangan mungil itu menuju
tempat makan yang ad di sekitar emperan ruko itu.
Mungkin
lapar…iya si anak ini benar-benar lapar, aku melihat dia begitu bersemangatnya
melahap makanan yang disajikan di hadapannya… suara hatiku mulai meneriaki
relung hatiku, ya Tuhan bukankah negeri ini begitu kaya? Bukankah engkau
memberikan begitu banyak kekayaan yang melimpa ruah di tanah leluhur kami ini?
Tetapi kenapa masih ada yang kelaparan? Mengapa…mengapa Ya Tuhan????
Masih banyak
rakyat Indonesia yang bertatih-tatih menelusuri hidup mereka dengan berbagai
fenomena yang terselimuti oleh kemiskinan, begitu banyak rakyat yang melatah
dan tak mampu berkata-kata karena tak berdaya menahan prahara politik dan
kepentingan para elit-elit bangsa… sementara mereka yang di sana (elit
bangsa-red) yang hidup penuh kemewahan, penuh kesenangan, berlimpangan harta
dan kekayaan. Mereka memperkaya diri mereka dengan mengatas namakan rakyat,
menggunakan kepercayaan rakyat untuk memuaskan hidup mereka, berbicara atas
nama rakyat, namun mereka tidak pernah sadar bahwa apa yang mereka lakukan,
omongin, lihat dan saksikan itu sangat dan amat menyiksa rakyat.
Sebenarnya
mereka itu tuli, bodoh tetapi sok pintar atau memang buta? Karena mereka bahkan
hampir tak pernah sadar apa yang mereka lakukan… sebenarnya mereka anggap apa
ini rakyat.. jadi sakit hati, tetapi nga boleh ngomel kata mereka, karena apa
yang aku omelin itu terdengar bodoh. Ngak boleh protes, karena kalau protes
pasti di tangkap polisi, ngak boleh dan ngak boleh.. hummmm terpaksa deh
menahan sakit ini walau terus sakit hingga ajal menjemputku.. terima kasih ya
Penyelenggara Negara yang konon katanya pintar, karena kalian telah membuat
kami (rakyat-red) menjadi seperti ini.. semoga tidak ada lagi yang menangis
tersedu-sedu di emperan hanya karena menahan lapar. Semoga Tuhan melindungi
kalian, agar kalian masih tetap memiliki kesempatan untuk menzdolimi kami lagi,
dan semoga kalian masih tetap mencuri dengan mengatas namakan kerja, dan semoga
kalian akan mendapat “LAKNAT” dari pemilik jagad ini..amin…
Tidak ada komentar :
Posting Komentar