Selamat Datang Di Blog Ivan Tahir

Sabtu, 30 November 2013

Masyarakat Bisa Beerswadaya


Kebutuhan masyarakat dewasa ini semakin meningkat, mulai dari kebutuhan hingga kebutuhan sosial lainnya, guna menunjang kehidupan dan hidup mereka. namun tentunya kebutuhan mayarakat tesebut masih menuai berbagai kendala, mulai dari kendala komunikasi, kesehatan, hingga transportasi yang menghubungkan mereka dengan pusat-pusat ekonomi seperti pasar dan sentral-sentral publik lainnya. kendala terbesar yang dihadapi masyarakat Maluku tentunya adalah soal transpostasi, maklumlah, karena secara geografis Maluku merupakan daerah kepulauan yang terpisah antara satu pulau dan pulau lainnya terutama akses menuju Ibukota Provinsi yakni Kota Ambon, karena saat ini Kota Ambon merupakan Pusat Ekonomi dan Pendidikan Masyarakat Maluku.

Sama hal Kota-Kota besar lainnya seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta serta kota besar lainnya di Indonesia, masalah yang dihadapi kota-kota besar tersebut hampir serupa bahkan mirip yakni “Kemacetan” karena tingkat Urbanisasi dari Desa ke Kota semakin meningkat dewasa ini, selain itu kebutuhan akan pasilitas kendaraan semakin meningkat menusul penghematan waktu serta resiko lainnya yang memaksa masyarakat terpaksa memiliki ikendaraan pribadi.
Tetapi lain halnya dengan Provinsi Maluku. Provinsi yang dikenal sebagai provinsi kepulauan ini, memang kemacetan terus terjadi di Kota Ambon terutama di jam-jam kantor, namun yang menjadi masalah penting adalah soal kendaraan laut. Ya.. soal kapal yang akan menghubungkan antara satu pulau dengan pulau lainnya.
Akibat minimnya angkutan lau, menyebabkan masyarakat terisolasi dan tidak bisa berinteraksi dengan dunia luar, masyarakat di Kepulauan Aru misalnya ketika pelajar yang ingin untuk melanjutkan pendidikan di Kota Ambon, maka mereka harus menunggu hinga sebulan untuk sampai di Kota Ambon, inilah sebenarnya masalah besar yang dihadapi Pemerintah Provinsi Maluku.
Lain halnya dengan Pulau Ossi. Pulau kecil yang memiliki luas kurang lebih 500 M. Tersebut hanya berjarak 2 KM dari Pulau Seram (Pulau Terbesar di Maluku). Pulau yang menjadi sentral ekonomi masyarakat Maluku (karena hampir semua kebutuhan pangan masyarakat maluku berasal dari Seram) tersebut hampir terabaikan dari pelupuk mata dan perhatian pemerintah.
Jika kita melihat potensi yang dimiliki Pulau kecil yang benama Ossi tersebut sebenarnya sangat banyak, karena Pulau Ossi jika dikelola dengan baik, maka akan menjadi salah satu tempat pariwisata di Maluku, karena selain memiliki pemandangan yang indah, Pulau Ossi juga memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah seperti Ikan, Rumput Laut. Karang, serta SDA lainnya yang sangat bermanfaat bagi masyarakat dan Maluku.
Luputnya perhatian pemerintah terhadap masyarakat dan Pulau tempat hubinya mereka, namun tidak membuat masyarakat di pulau tersebut terdiam dan duduk menanti datangnya hujan. Atas keinginan masyarakat untuk berinteraksi dengan dunia luarnya, maka masyarakat berswadaya untuk membangun Jembatan Layang yang menghubungkan antara Pulau Ossi dan Pulau Seram.
Jembatan yang panjangnya mencapai 2 KM tersebut, dibangun oleh masyarakat dengan mengandalkan pontensi dan sumber daya yang ada di sekitar mereka. Jembatan tersebut hanya terbuat dari ranting Mangrove dan kayu yang terdapat di seputaran Pulau Ossi.
Keinginan yang besar tersebut ternyata belum juga dilihat oleh Pemrintah setempat, baik pemerintah Kabupaten SBB maupun Provinsi, namun tekad untuk memiliki akses dengan daerah luar yang semakin menyemangati mereka.
Pada akhirnya dalam jangka delapan bulan, terbentuklah Jembatan Layang Klasik yang membentang dilaut dan menghubungkan antara Pulau Seram (Nusa Ina) dengan Pulau Ossi. Walau hanya dilewati manusia dan kendaraan roda dua, namun Jembatan Klasik tersebut sangat berarti dan berguna bagi masyarakat setempat
Hebarnya, jembatan yang diresmikan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu pada tahun 2012 tersebut telah dilalui Jutaan bahkan ribuan kaki dan kendaraan roda dua dan kini masyarakat Pulau Ossi tidak lagi terisolir. Mereka kini telah menikmati daratan besar dengan leluasa tanpa harus menunggu kapal pengangkut yang tidak pernah kunjung datang untuk mengangkut mereka.
Kita perlu mengapresiasi meraka, kita perlu mengacungkan jempol kepada mereka dan kita tidak perlu menganggap mereka terbelakang, karena berkat usaha dan semangat yang dimiliki setiap manusia yang menghuni Pulau Ossi telah mengangkat mereka dari masyarakat tertingkal menjadi masyarakat moderen, karena mereka telah mengenal berbagai hal di zaman moderen seperti saat ini.
Pulau Ossi merupakan salah satu Pulau kecil di Kabupaten SBB Maluku yang memiliki Potensi dan pemandangan yang sangat eksotik dan alami, dan sejak adanya Jembatan Klasik tersebut, kini banyak yang mengunjungi Pulau itu, mulai dari Wisatawan Domestik maupun Wisatawan Mancanegara, dan kini perekonomian masyarakat setempat menjadi semakin meningkat dan mereka tidak terlalu terbebani dengan mata pencaharian mereka yang lama, yakni sebagai Nelayan yang hasil tangkapan mereka hanya bisa dijajahkan di pulau itu, kini mereka bisa menjajah hasil tangkapan mereka baik ikan maupun rumput laut yang mereka budidayakan di Kota dan sentral ekonomi lainnya.
Semoga dengan adanya usaha dan swadaya masyarakat ini, dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain di Maluku dan Indonesia, tentantang arti suatu kebersamaan dan kerja keras. Mereka kini telah memeberikan pelajaran penting bagi kita sekalian, yakni tidak pelu menunggu pemerintah datang untuk melakukan perubahan, karena perubahan itu kita bisa memulainya jika kita memiliki kemauan dan kerja sama. Kita tidak perlu membebani pemeintah dengan hal yang seharusnya bisa kita lakukan sendiri, karena belum tentu apa yang menurut kita itu pekerjaannya pemerintah dan mereka yang seharusnya lakukan, karena kita mampu melakukannya sendiri jika kita memiliki usa dan daya.
Semoga ini dapat menginspirasi kita semua untuk melakukan perubahan, walau hanya sekecil butiran pasir di laut, namun perubahan yang kecil itu kemudian akan sangat bermanfaat bagi kita dan banyak orang.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar