![]() |
Kebutuhan
masyarakat dewasa ini semakin meningkat, mulai dari kebutuhan hingga
kebutuhan sosial lainnya, guna menunjang kehidupan dan hidup mereka.
namun tentunya kebutuhan mayarakat tesebut masih menuai berbagai
kendala, mulai dari kendala komunikasi, kesehatan, hingga transportasi
yang menghubungkan mereka dengan pusat-pusat ekonomi seperti pasar dan
sentral-sentral publik lainnya. kendala terbesar yang dihadapi
masyarakat Maluku tentunya adalah soal transpostasi, maklumlah, karena
secara geografis Maluku merupakan daerah kepulauan yang terpisah antara
satu pulau dan pulau lainnya terutama akses menuju Ibukota Provinsi
yakni Kota Ambon, karena saat ini Kota Ambon merupakan Pusat Ekonomi dan
Pendidikan Masyarakat Maluku.
Sama
hal Kota-Kota besar lainnya seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta serta
kota besar lainnya di Indonesia, masalah yang dihadapi kota-kota besar
tersebut hampir serupa bahkan mirip yakni “Kemacetan” karena tingkat
Urbanisasi dari Desa ke Kota semakin meningkat dewasa ini, selain itu
kebutuhan akan pasilitas kendaraan semakin meningkat menusul penghematan
waktu serta resiko lainnya yang memaksa masyarakat terpaksa memiliki
ikendaraan pribadi.
Tetapi
lain halnya dengan Provinsi Maluku. Provinsi yang dikenal sebagai
provinsi kepulauan ini, memang kemacetan terus terjadi di Kota Ambon
terutama di jam-jam kantor, namun yang menjadi masalah penting adalah
soal kendaraan laut. Ya.. soal kapal yang akan menghubungkan antara satu
pulau dengan pulau lainnya.
Akibat
minimnya angkutan lau, menyebabkan masyarakat terisolasi dan tidak bisa
berinteraksi dengan dunia luar, masyarakat di Kepulauan Aru misalnya
ketika pelajar yang ingin untuk melanjutkan
pendidikan di Kota Ambon, maka mereka harus menunggu hinga sebulan
untuk sampai di Kota Ambon, inilah sebenarnya masalah besar yang
dihadapi Pemerintah Provinsi Maluku.
Lain
halnya dengan Pulau Ossi. Pulau kecil yang memiliki luas kurang lebih
500 M. Tersebut hanya berjarak 2 KM dari Pulau Seram (Pulau Terbesar di
Maluku). Pulau yang menjadi sentral ekonomi masyarakat Maluku (karena hampir semua kebutuhan pangan masyarakat maluku berasal dari Seram) tersebut hampir terabaikan dari pelupuk mata dan perhatian pemerintah.
Jika
kita melihat potensi yang dimiliki Pulau kecil yang benama Ossi
tersebut sebenarnya sangat banyak, karena Pulau Ossi jika dikelola
dengan baik, maka akan menjadi salah satu tempat pariwisata di Maluku,
karena selain memiliki pemandangan yang indah, Pulau Ossi juga memiliki
sumber daya alam (SDA) yang melimpah seperti Ikan, Rumput Laut. Karang,
serta SDA lainnya yang sangat bermanfaat bagi masyarakat dan Maluku.
Luputnya
perhatian pemerintah terhadap masyarakat dan Pulau tempat hubinya
mereka, namun tidak membuat masyarakat di pulau tersebut terdiam dan
duduk menanti datangnya hujan. Atas keinginan masyarakat untuk
berinteraksi dengan dunia luarnya, maka masyarakat berswadaya untuk
membangun Jembatan Layang yang menghubungkan antara Pulau Ossi dan Pulau
Seram.
Jembatan
yang panjangnya mencapai 2 KM tersebut, dibangun oleh masyarakat dengan
mengandalkan pontensi dan sumber daya yang ada di sekitar mereka.
Jembatan tersebut hanya terbuat dari ranting Mangrove dan kayu yang
terdapat di seputaran Pulau Ossi.
Keinginan
yang besar tersebut ternyata belum juga dilihat oleh Pemrintah
setempat, baik pemerintah Kabupaten SBB maupun Provinsi, namun tekad
untuk memiliki akses dengan daerah luar yang semakin menyemangati
mereka.
Pada
akhirnya dalam jangka delapan bulan, terbentuklah Jembatan Layang
Klasik yang membentang dilaut dan menghubungkan antara Pulau Seram (Nusa
Ina) dengan Pulau Ossi. Walau hanya dilewati manusia dan kendaraan roda
dua, namun Jembatan Klasik tersebut sangat berarti dan berguna bagi
masyarakat setempat
Hebarnya,
jembatan yang diresmikan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu pada
tahun 2012 tersebut telah dilalui Jutaan bahkan ribuan kaki dan
kendaraan roda dua dan kini masyarakat Pulau Ossi tidak lagi terisolir.
Mereka kini telah menikmati daratan besar dengan leluasa tanpa harus
menunggu kapal pengangkut yang tidak pernah kunjung datang untuk
mengangkut mereka.
Kita
perlu mengapresiasi meraka, kita perlu mengacungkan jempol kepada
mereka dan kita tidak perlu menganggap mereka terbelakang, karena berkat
usaha dan semangat yang dimiliki setiap manusia yang menghuni Pulau
Ossi telah mengangkat mereka dari masyarakat tertingkal menjadi
masyarakat moderen, karena mereka telah mengenal berbagai hal di zaman
moderen seperti saat ini.
Pulau
Ossi merupakan salah satu Pulau kecil di Kabupaten SBB Maluku yang
memiliki Potensi dan pemandangan yang sangat eksotik dan alami, dan
sejak adanya Jembatan Klasik tersebut, kini banyak yang mengunjungi
Pulau itu, mulai dari Wisatawan Domestik maupun Wisatawan Mancanegara,
dan kini perekonomian masyarakat setempat menjadi semakin meningkat dan
mereka tidak terlalu terbebani dengan mata pencaharian mereka yang lama,
yakni sebagai Nelayan yang hasil tangkapan mereka hanya bisa dijajahkan
di pulau itu, kini mereka bisa menjajah hasil tangkapan mereka baik
ikan maupun rumput laut yang mereka budidayakan di Kota dan sentral
ekonomi lainnya.
Semoga
dengan adanya usaha dan swadaya masyarakat ini, dapat menjadi contoh
bagi masyarakat lain di Maluku dan Indonesia, tentantang arti suatu
kebersamaan dan kerja keras. Mereka kini telah memeberikan pelajaran
penting bagi kita sekalian, yakni tidak pelu menunggu pemerintah datang
untuk melakukan perubahan, karena perubahan itu kita bisa memulainya
jika kita memiliki kemauan dan kerja sama. Kita tidak perlu membebani
pemeintah dengan hal yang seharusnya bisa kita lakukan sendiri, karena
belum tentu apa yang menurut kita itu pekerjaannya pemerintah dan mereka
yang seharusnya lakukan, karena kita mampu melakukannya sendiri jika
kita memiliki usa dan daya.
Semoga
ini dapat menginspirasi kita semua untuk melakukan perubahan, walau
hanya sekecil butiran pasir di laut, namun perubahan yang kecil itu
kemudian akan sangat bermanfaat bagi kita dan banyak orang.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar