Mendidik anak usia dini tidak semuda yang
dibayangkan, untuk itu guna mendidik anak sekolah usia dini setingkat sekolah
dasar (SD) membutuhkan menajemen dan model pembelajaran yang baik dan baru.
System belajar eksprektif adalah salah satu solusi untuk mendidik anak sekolah
setingkat SD dan SMP. Hal ini dikarenakan, system dan motode pembelajaran yang
mungkin terlalu kaku dan formal hingga menjadikan siswa menjadi stres dan jenuh
jika mengikuti pelajaran di kelas.
Metode belajar yang hanya mengandalkan tulis dan
baca, tentunya akan sangat berpotensi untuk menimbulkan kejenuhan dan kebosanan
saat menerima pelajaran. Untuk itu, system yang ekspretif adalah dengan cara
belajar langsun praktek, serta belajar dengan menggunakan kosep bermain. “yaa…mungkin
aja guru-guru di kelas yang duluan jenuh, makanya ngajarnya juga ngak serius,
asal nama ngajar aja..”
Metode partisipatori misalnya, dalam modul triart
dan skrem yang digunakan oleh Internasional Labore Organizastion
(ILO). Dimana modul tersebut telah diujicobakan di beberapa Negara dan memiliki
hasil yang sangat baik terhadap peningkatan mutu serta motifasi belajar anak. Coba
liht di Eropa aja bisa, kenapa Indonesia ngak bisa, wong anak-anak Indonesia
kan kalo soal main ya nomor wahid… pasti berhasil thu…
Memang tidak selamanya guru-guru hanya dapat
memberikan pelajaran dengan menggunakan motode triart dan skrem
saja, karena mereka memiliki tugas dan tanggungjawab untuk menjadikan anak-anak
binaan mereka untuk cerdas pada bidang akademik juga, untuk itu kebanyakan
guru-guru lebih memilih untuk mengasah, memaksa kemampuan siswa secara
akademik, namun menggunakan cara dan metode yang kaku, bahkan tidak relevan
lagi untuk dipergunakan, karena mendidik anak dengan cara memaksa otaknya untuk
bekerja, sama saja kita memberikan jalan kematian yang akan membunuhnya secara
perlaha-lahan, karena awalnya dia akan mengalami stress, kemudian dari stress
inilah langkah awal untuk anak melakukan hal-hal yang ada diluar dugaan kita. “liat
contohnya banyak, siswa SD gantung diri, anak kecil lakoni hal nekad (manjat
tower dll). Hebat kan..untung ngak smuanya jadi gtu, kalo ngak?? Apa Indonesia
masi ada anak kecil yang cerdas?? hehehe
Untuk mendidik anak dengan cara dan metode
seperti ini, tentunya harus memiliki tenaga pengajar yang mampu melakoni
semuanya dengan baik. Kita sebenarnya tidak perlu mengambil orang luar (tenaga
pengajar di luar sekolah) untuk mendidik anak di sekolah kita, cukup guru-guru
yang berada di sekolah tersebut diikutsertakan dalam kegiatan workshop atau
pelatihan yang berhubungan dengan masalah tersebut, kenapa harus workshop atau
pelatihan, karena dengan cara sepeti ini, para guru akan dididik secara khusus
dengan menggunakan metode partisipatori,yang berdasar pada modul triart
dan skrem
Jika metode belajar triart and skrem itu
dipadukan atau diintegrasikan dengan mata pelajaran setiap guru di kelas saat
memberikan mata pelajaran, maka akan sangat baik untuk pengembangan mutu siswa,
karena disamping mengajak siswa untuk bermain sambil belajar dengan tidak
menimbulkan kejenuhan, siswa juga akan sangat baik mutunya dalam bidang
akademik. Iya, kan guru mengejar nilai akademik siswa, tetapi tidak
menjamin siswa itu bakalan bagus, sementara metode ini juga bisa dapat ua-duanya…bagus
juga thu…
Namun untuk menjalankan semuanya, tentunya setiap
guru-guru yang telah dinyatakan lulus sebagai guru bermetode partisipatori,
harus ada yang ngontrol dan mengevaluasi setiap perkembangannya, baik
perkembangannya dalam mendidik siswa, maupun perkembangannya dalam
memformulasikan metodeya demi pencapaian hasil yang maksimal.
Mungkin pengawas atau evaluator itu disebut team
monitoring, karena tim ini yang akan memonitor setiap perkembanagan, baik
gurunya maupun siswa pasca mendapat pelajaran dengan menggunakan metode
partisipatori tersebut.
Namun pertanyaannya kemudian, apakah anggaran
pendidikan di Indonesia bisa kalo dipergunakan untuk metode belajar yang satu
ini… ?? ini dia masalah yang selama ini menghantui masyarakat, ingin melakukan
perubahan, metode dan lainnya namun persoalan anggaran yang menghambat. Mungkin
soalan ini bisa dijawab oleh pemerintah aje..kita anak kecil ini ma…ngak punya
hak untuk menjawab..di jawab entar dibilang tau apa kalian.. kalian ngak tau
apa-apa..huhhhh… akhirny yang kecil-kecil ni harus survival di sekolah
masing-masing biar sekolahnya tetap berjalan, mau hasilnya seperti apa nanti
ajalah yang penting mereka sekolah dan lulus, itu aja… (hanya menjalankan
ritual pendidikan)
Moga ajeee kita yang kecil-kecil ini bisa
dilihat oleh orang-orang yang katanya besar di senayan sana.. hummmm harapan
kami ni yeee orang besar-besar..hehe! by ith
Tidak ada komentar :
Posting Komentar