Selamat Datang Di Blog Ivan Tahir

Sabtu, 30 November 2013

Belajar Eksprektif Solusi Mendidik Anak di Sekolah

Mendidik anak usia dini tidak semuda yang dibayangkan, untuk itu guna mendidik anak sekolah usia dini setingkat sekolah dasar (SD) membutuhkan menajemen dan model pembelajaran yang baik dan baru. System belajar eksprektif adalah salah satu solusi untuk mendidik anak sekolah setingkat SD dan SMP. Hal ini dikarenakan, system dan motode pembelajaran yang mungkin terlalu kaku dan formal hingga menjadikan siswa menjadi stres dan jenuh jika mengikuti pelajaran di kelas.

Metode belajar yang hanya mengandalkan tulis dan baca, tentunya akan sangat berpotensi untuk menimbulkan kejenuhan dan kebosanan saat menerima pelajaran. Untuk itu, system yang ekspretif adalah dengan cara belajar langsun praktek, serta belajar dengan menggunakan kosep bermain. “yaa…mungkin aja guru-guru di kelas yang duluan jenuh, makanya ngajarnya juga ngak serius, asal nama ngajar aja..”
Metode partisipatori misalnya, dalam modul triart dan skrem yang digunakan oleh Internasional Labore Organizastion (ILO). Dimana modul tersebut telah diujicobakan di beberapa Negara dan memiliki hasil yang sangat baik terhadap peningkatan mutu serta motifasi belajar anak. Coba liht di Eropa aja bisa, kenapa Indonesia ngak bisa, wong anak-anak Indonesia kan kalo soal main ya nomor wahid… pasti berhasil thu…
Memang tidak selamanya guru-guru hanya dapat memberikan pelajaran dengan menggunakan motode triart dan skrem saja, karena mereka memiliki tugas dan tanggungjawab untuk menjadikan anak-anak binaan mereka untuk cerdas pada bidang akademik juga, untuk itu kebanyakan guru-guru lebih memilih untuk mengasah, memaksa kemampuan siswa secara akademik, namun menggunakan cara dan metode yang kaku, bahkan tidak relevan lagi untuk dipergunakan, karena mendidik anak dengan cara memaksa otaknya untuk bekerja, sama saja kita memberikan jalan kematian yang akan membunuhnya secara perlaha-lahan, karena awalnya dia akan mengalami stress, kemudian dari stress inilah langkah awal untuk anak melakukan hal-hal yang ada diluar dugaan kita. “liat contohnya banyak, siswa SD gantung diri, anak kecil lakoni hal nekad (manjat tower dll). Hebat kan..untung ngak smuanya jadi gtu, kalo ngak?? Apa Indonesia masi ada anak kecil yang cerdas?? hehehe
Untuk mendidik anak dengan cara dan metode seperti ini, tentunya harus memiliki tenaga pengajar yang mampu melakoni semuanya dengan baik. Kita sebenarnya tidak perlu mengambil orang luar (tenaga pengajar di luar sekolah) untuk mendidik anak di sekolah kita, cukup guru-guru yang berada di sekolah tersebut diikutsertakan dalam kegiatan workshop atau pelatihan yang berhubungan dengan masalah tersebut, kenapa harus workshop atau pelatihan, karena dengan cara sepeti ini, para guru akan dididik secara khusus dengan menggunakan metode partisipatori,yang berdasar pada modul triart dan skrem
Jika metode belajar triart and skrem itu dipadukan atau diintegrasikan dengan mata pelajaran setiap guru di kelas saat memberikan mata pelajaran, maka akan sangat baik untuk pengembangan mutu siswa, karena disamping mengajak siswa untuk bermain sambil belajar dengan tidak menimbulkan kejenuhan, siswa juga akan sangat baik mutunya dalam bidang akademik. Iya, kan guru mengejar nilai akademik siswa, tetapi tidak menjamin siswa itu bakalan bagus, sementara metode ini juga bisa dapat ua-duanya…bagus juga thu…
Namun untuk menjalankan semuanya, tentunya setiap guru-guru yang telah dinyatakan lulus sebagai guru bermetode partisipatori, harus ada yang ngontrol dan mengevaluasi setiap perkembangannya, baik perkembangannya dalam mendidik siswa, maupun perkembangannya dalam memformulasikan metodeya demi pencapaian hasil yang maksimal.
Mungkin pengawas atau evaluator itu disebut team monitoring, karena tim ini yang akan memonitor setiap perkembanagan, baik gurunya maupun siswa pasca mendapat pelajaran dengan menggunakan metode partisipatori tersebut.
Namun pertanyaannya kemudian, apakah anggaran pendidikan di Indonesia bisa kalo dipergunakan untuk metode belajar yang satu ini… ?? ini dia masalah yang selama ini menghantui masyarakat, ingin melakukan perubahan, metode dan lainnya namun persoalan anggaran yang menghambat. Mungkin soalan ini bisa dijawab oleh pemerintah aje..kita anak kecil ini ma…ngak punya hak untuk menjawab..di jawab entar dibilang tau apa kalian.. kalian ngak tau apa-apa..huhhhh… akhirny yang kecil-kecil ni harus survival di sekolah masing-masing biar sekolahnya tetap berjalan, mau hasilnya seperti apa nanti ajalah yang penting mereka sekolah dan lulus, itu aja… (hanya menjalankan ritual pendidikan)
Moga ajeee kita yang kecil-kecil ini bisa dilihat oleh orang-orang yang katanya besar di senayan sana.. hummmm harapan kami ni yeee orang besar-besar..hehe! by ith

Tidak ada komentar :

Posting Komentar