Selamat Datang Di Blog Ivan Tahir

Sabtu, 30 November 2013

KESURUPAN SEBUAH FENOMENA ALAM ATAU MINIMNYA KEIMANAN MANUSIA



Oleh : Ivan Tahir Hehanussa
Kesurupan masih mengundang perdebatan hingga saat ini. Banyak Kalangan sebenarnya masih menolak dan tidak menerima kesurupan itu sendiri. Mereka masih menolak dengan menggunakan alasan klasik yakni “tidak bisa diterima akal”.Untuk itu saya mencoba membuka sedikit kajian guna memberikan kesadaran kita bahwa syariat Islam sejatinya dibangun di atas dalil bukan penilaian pribadi atau logika orang per orang.

Asal mulanya Peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia masih menjadi teka-teki bagi sebagian orang. Peristiwa yang kita kenal dengan istilah kesurupan atau kerasukan ini sering kali menjadi polemik dan mengandung berbagai pertanyaan di tengah masyarakat, hingga lahir banyak persepsi tentang kesurupan itu sendiri, bahkan kontroversi sikap pun meruak dan bermunculan ke permukaan. Ada sebagian yang  membenarkan fenomena tersebut dan ada pula yang mengingkarinya karena tidak terjangkau secara akal sehatnya. Bahkan parahnya ada yang menganggapnya sebagai suatu perbuatan dusta dan termasuk dari kemusrikan.
Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan melihat berita di berbagai  media massa, baik media cetak maupun elektronik tentang kesurupan masal, Bakhkan di sekeliling kita di Ambon, kesurupan sering menimpa siswa SMA dan mahasiswa pada perguruan tinggi. SMA Negeri 11 Ambon misalnya, tahun 2010 lalu, kesurupan masal terjadi di sekolah yang berlokasi di Galunggung Tanah Rata itu. Puluhan siswa mengalami kesurupan pada saat yang bersamaan. Kejadian tersebut bermula dari salah seorang siswi yang konon katanya melihat sosok makhluk asing yang tidak dapat dijelaskan seperti apa, yang jelas sosok yang menampakkan dirinya tersebut bukanlah manusia biasa (keterangan salah seorang siswa yang menjadi korban kesurupan).
Setelah melihat sosok makhluk asing yang aneh tersebut, sang siswa akhirnya berteriak histeris hingga menyebabkan kepanikan di dalam kelas, selang beberapa menit kemudian, hampir seluruh siswa di dalam kelas tersebut berteriak histeris dan tidak sadarkan diri yang berujuk pada peristiwa yang disebut kesurupan. Karena banyak siswa yang telah mengalami kesurupan dan tidak dapat mengendalikan dirinya, akhirnya pihak sekolah mengembalikan siswa-siswa tersebut kepada orang tua mereka untuk menghindari kejadian yang lebih besar. Namun hingga kini tidak ada penjelasan resmi dari pihak sekolah terkait kejadian tersebut, yang pada akhirnya kejadian yang sempat menghebohkan warga sekitar itu masih misteri hingga sekarang, karena dari pihak sekolah maupun para medis tidak memberikan keterangan terkait dengan kejadian tersebut.
Pada tahun 2003, puluhan mahasiswa STAIN Ambon yang kini menjadi IAIN Ambon mengalami kesurupan secara masal, yang menyebabkan kepanikan di wilayah Batu Merah Atas tersebut. Namun hingga kini pihak kampus maupun mahasiswa sendiri belum mampu menjelaskan secara ilmiah tentang kejadian itu. Selain itu masih banyak cerita yang kita sendiri mengetahui dan mengalaminya di lingkungan kita sehari-hari.
Menurut laporan media tahun 2007, dalam satu bulan, peristiwa kesurupan pernah terjadi di empat kota secara berurutan: Yogyakarta (6/3), Surabaya (20/3), Banjarmasin (20/3), dan Bogor (21/3). Bahkan, di tahun 2008 ini, tiga peristiwa kesurupan terjadi di hari yang sama (25/11) di tiga kota: Jambi, Banjarmasin dan Malang. Di Jambi, kesurupan dialami puluhan siswi SMK Negeri 4 Jambi. Seorang guru juga ikut terjangkit kesurupan. Tiga hari sebelumnya peristiwa yang sama juga terjadi di sekolah itu. Sementara di Banjarmasin, puluhan siswi SMA PGRI II Banjarmasin kesurupan saat mengikuti pelajaran. Bahkan parahnya Kesurupan di sekolah tersebut telah menjadi agenda rutin tiap tahun. Karena setiap tahun peristiwa serupa terus terjadi.
Di Malang, kesurupan masal terjadi di SMP PGRI I Pakisaji.Kesurupan justru terjadi saat sekolah mengadakan ritual untuk mengusir roh jahat. Karena siswa di sekolah sekolah tersebut memang sudah langganan menjadi korban kesurupan masal.
Di Padang, menurut laporan Majalah Gatra (Edisi 51, 31 Oktober 2003) pernah terjadi kesurupan beruntun dan sepertinya terpola. Mula-mula, pada bulan Juli, kesurupan menimpa 10 santriwati Pondok Pesantren Khairul Ummah, Tunggul Hitam. Sebulan kemudian merambah ke Pesantren Tungkar, Luhak, Limapuluh Kota. Beberapa santriwatinya mengalami kejadian yang sama. Lalu pada bulan September, giliran Madrasah Aliyah Negeri 2 Payakumbuh yang dihebohkan dengan kejadian serupa. Sedikitnya 11 siswi mengalami kesurupan dengan gejala yang mirip. Oleh para Dewan Guru dan masyarakat setempat mengatakan, kejadian tersebut merupakan kesurupan masal. Karena kejadian tersebut memiliki proses yang sama, menimpa pada pelajar yang satu model, yakni pesantren dan Madrasah Aliyah, atau pelajar Islam, sampai-sampai ada isu yang mengkait-kaitkan kejadian dengan dengan upaya pemurtadan oleh pemeluk agama tertentu terhadap Umat Islam, beruntunglah isu itu tidak sampai menimbulkan kerusuhan masal. Luar biasa kan? Hehehe…….
Di Kota Ambon, salah satu kasus yang menghebohkan masyarakat Maluku bahkan Indonesia, karena jumlah korban pada kejadian tersebut berjumlah kurang lebih 800 orang, yang pada akhirnya oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan Provinsi Maluku di tetapkan sebagai kejadian Luar Biasa (KLB).
Agustus 2007, saat itu Civitas Akademika IAIN Ambon sementara melaksanakan agenda akademiknya yakni Orientasi Pengenalan Studi dan Akademik(OPAK). Di hari ketiga OPAK tersebut, kurang lebih pukul 14.30 WIT, peserta sementara mengantre untuk mendapatkan jatah makan siang usai melaksanakan ibadah Dzuhur. Setelah mendapatkan jatah makan siang, peserta kembali mengikuti materi yang dilaksanakan di ruangan Aula Kampus yang tidak jauh dari lokasi mereka mengantre makanan. Selang satu jam kemudian setelah mengkonsumsi makan siang mereka, salah satu mahasiswa yang juga anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Umum (UKMU) yang saat itu bertindak sebagai  Panitia OPAK, mengalami mual hingga menyebabkan muntah-muntah.
Awalnya tim kesehatan (Korps Sukarela Unit IAIN-red) kampus memperkirakan panitia OPAK tersebut mual karena terlambat makan (penyakit mag), namun karena kebanyakan muntah dan mengeluarkan cairan putih yang berbusah dari mulutnya, akhirnya mereka memutuskan untuk memberikan obat alegri. Selang beberapa menit kemudian, usai melasakanakan Ba’adah Ashar, peserta yang sementara diarahkan panitia untuk berkumpul di lapangan utama kampus tersebut (lapangan upacara-red) setelah peserta semua telah berkumpul di lapangan, mulailah terdengar suara teriakan histeris. Awalnya hanya beberapa diantara ratusan mahasiswa tersebut, namun akhirnya hampir seluruh peserta dan panitia mengalami hal serupa. Mereka mengalami muntah-muntah yang diikuti teriakan histeris.
Puluhan mahasiswa yang mengalami mual itu mulai mengalami kerasukan, teriakan yang tidak karuan mulai terdengar di sana sini, hingga waktu menjelang Ba’dah Magrib sudah tak lagi tercermin waktu sholat, karena banyaknya suara histris dan tangisan yang mendominasi kampus berjuluk Kampus Hijau itu.
Kasus yang oleh pemerintah Provinsi Maluku ditetapkan sebagai kasus KLB tersebut, merupakan salah satu kasus terbesar pertama di Indonesia sepanjang sepuluh tahun terakhir (catatan media massa). Dalam kasus tersebut, lebih dari delapan ratus mahasiswa menjadi korban keracunan makanan dan kerasukan…hehehe heboh bangeet kan???.
Akhir-akhir ini, kita sering dikejutkan dengan berita kesurupan yang dialami sejumlah pelajar di sekolah, yang kerap kita dengar, kejadian itu menimpa pelajar SMA dan Mahasiswa perguruan tinggi dan kelompok karyawan juga ada, namun jarang yang sifatnya massal. Fenomena apakah ini? Bahkan Saking “uniknya”, sampai-sampai seorang wartawan yang meliput kejadian itu ikut-ikutan pula kesurupan.
Sebagai muslim sejati yang berupaya meniti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya tentunya prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbeda pendapat’ haruslah selalu dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kalam-Nya nan suci:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai.”
Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya serta merujuk kepada keduanya ketika terjadi perselisihan. Ia memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al- Qur`an dan As-Sunnah secara keyakinan dan amalan…” Demikianlah timbangan adil yang dijunjung tinggi oleh Islam. Berangkat dari sini maka saya brmaksud menyajikan –di tengah-tengah kita sekalian beberapa sajian ilmiah berupa keterangan atau fatwa dari Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu dan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu seputar permasalahan kesurupan atau kerasukan jin ini. Dengan harapan ini bisa menjadi pelita dalam gelapnya permasalahan dan pembuka bagi cakrawala berpikir kita semua. Amiin ya Rabbal ‘Alamin…
Penjelasan Asy-Syaikh Abdul Azizbin Abdullah bin Baz rahimahullahuAsy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu
“Segala puji hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Shalawat dan salam semoga tercurahkan keharibaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluarganya para shahabatnya dan orang-orang yg haus akan petunjuknya. Amma ba’du”
Pada bulan Sya’ban tahun 1407 H sejumlah surat kabar lokal dan nasional telah memuat berita –ada yang ringkas dan ada yang detail, tentang masuk Islamnya sejumlah jin di hadapanku di kota Riyadh yang sedang merasuki tubuh salah seorang wanita muslimah. Sebelumnya jin tersebut telah mengumumkan keislamannya di hadapan saudara Abdullah bin Musyarraf Al-‘Amri seorang penduduk kota Riyadh. Setelah dibacakan ayat-ayat Al-Qur`an kepada wanita yang kerasukan itu dan berdialog dengan jin itu serta mengingatkan bahwa perbuatannya itu merupakan dosa besar dan kedzaliman yang diharamkan saudara Abdullah pun menyuruhnya agar keluar dari tubuh si wanita. Jin itu pun patuh kemudian menyatakan keislamannya di hadapan saudara Abdullah ini. Abdullah dan para wali wanita itu ingin membawa si wanita kepadaku agar aku turut menyaksikan keislaman jin tersebut. Mereka pun datang kepadaku. Aku menanyai jin tersebut tentang sebab-sebab dia masuk ke dalam tubuh si wanita. Dia pun menceritakan kepadaku beberapa faktor penyebabnya. Dia berbicara melalui mulut si wanita itu akan tetapi suaranya adalah suara seorang laki-laki dan bukan suara wanita yang ketika itu sedang duduk di kursi bersama-sama dengan saudara laki-lakinya saudara perempuannya dan Abdullah bin Musyarraf yang tidak jauh dari tempat dudukku. Sebagian masyayikh pun menyaksikan kejadian ini dan mendengarkan secara langsung ucapan jin tersebut yang telah menyatakan keislamannya. Dia menjelaskan bahwa asalnya dari India dan beragama Budha. Aku pun menasehatinya dan berwasiat kepadanya agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memintanya keluar dari tubuh si wanita serta tidak menzaliminya. Dia pun menyambut ajakanku itu seraya mengatakan: “Aku merasa puas dengan agama Islam.”Aku wasiatkan pula kepadanya agar mengajak kaumnya untuk masuk Islam setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya hidayah. Dia menjanjikan hal itu lalu ia pun keluar dari tubuh si wanita. Ucapan terakhir yang dia katakan ketika itu: “Assalamu’alaikum”. Setelah itu barulah si wanita mulai berbicara dengan suara aslinya dan benar-benar merasakan kesembuhan serta kebugaran pada tubuhnya.
Selang sebulan atau lebih si wanita ini datang kembali kepadaku bersama dua saudara laki-laki paman dan saudarinya. Dia mengabarkan bahwa keadaannya sehat wal afiat dan syukur alhamdulillah jin itu tidak mendatanginya lagi. Aku bertanya kepada wanita tersebut tentang kondisinya saat kemasukan jin. Dia menjawab bahwa saat itu merasa selalu dihantui oleh pikiran- pikiran kotor yang bertentangan dengan syariat. Pikirannya selalu condong kepada Agama Budha serta antusias untuk mempelajari buku-buku agama tersebut. Kini setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya dari gangguan jin tersebut sirnalah berbagai pikiran yang menyimpang itu. Kemudian sampailah berita kepadaku bahwa Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi mengingkari peristiwa ini seraya menyatakan bahwa ini adalah penipuan dan kedustaan. Bisa jadi itu rekayasa rekaman yang dibawa oleh si wanita dan bukan dari ucapan jin sama sekali. {Seketika itu juga} kuminta kaset rekaman tentang dialogku dengan jin tersebut. Setelah kudengarkan secara seksama aku pun yakin bahwa suara itu adalah suara jin. Sungguh aku sangat heran dengan pernyataan yang dilontarkan Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi bahwa itu adalah rekayasa rekaman belaka. Karena aku berulang kali mengajukan pertanyaan kepada jin tersebut dan dia pun selalu menjawabnya. Bagaimana mungkin akal sehat bisa membenarkan adanya sebuah tape/ alat rekam yang bisa ditanya dan bisa menjawab?! Sungguh ini merupakan kesalahan fatal dan statement yang sulit untuk diterima. Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi juga menyatakan bahwa masuk Islamnya seorang jin oleh seorang manusia bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:
وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَََحَدٍ مِنْ بَعْدِي
“Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku.” Tidak diragukan lagi pernyataan di atas merupakan kesalahan dan pemahaman yang keliru semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya hidayah. Masuk Islamnya seorang jin oleh manusia tidaklah menyelisihi doa Nabi Sulaiman .
Karena sungguh telah banyak jin yang masuk Islam melalui Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahqaf dan Al-Jin. Demikian pula telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ عَرَضَ لِي فَشَّدَ عَلَيَّ لِيَقْطَعَ الصَّلاَةَ عَلَيَّ فَأَمْكَنَنِيَ اللهُ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أُوْثِقَهُ إِلَى سَارِيَةٍ حَتَّى تُصْبِحُوا فَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ فَذَكَرْتُ قَوْلَ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ، فَرَدَّهُ اللهُ خَاسِيًا. هَذَا لَفْظُ الْبُخَارِي
“Sesungguhnya setan telah menampakkan diri di hadapanku untuk memutus shalatku. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapinya {baca: mengalahkannya} sehingga aku dapat mendorongnya dengan kuat. Sungguh sebenarnya aku ingin mengikatnya di sebuah tiang hingga kalian dapat menontonnya di pagi harinya. Tapi aku teringat akan ucapan saudaraku Nabi Sulaiman ‘alaihissalam: ‘Ya Rabbi anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.”Demikianlah lafadz yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari. Adapun lafadz Al- Imam Muslim adl sebagai berikut:
إِنَّ عِفْرِيْتًا مِنَ الْجِنِّ جَعَلَ يَفْتِكُ عَلَيَّ الْبَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ وَإِنَّ اللهَ أَمْكَنَنِيْ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ فَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى جَنْبِ سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا تَنْظُرُونَ إِلَيْهِ أَجْمَعُونَ أَوْ كُلُّكُمْ ثُمَّ ذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِيْ سُلَيْمَانَ فَرَدَّهُ اللهُ خَاسِئًا
“Sesungguhnya ‘Ifrit dari kalangan jin telah menampakkan diri di hadapanku tadi malam untuk memutus shalatku. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapinya sehingga aku dapat mendorongnya dengan kuat.
Para pembaca yang budiman, peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia hingga membuatnya kesurupan telah ada keterangannya di dalam Kitabullah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma’ umat ini. Maka tidak bisa dibenarkan bagi orang yang tergolong intelek untuk mengingkarinya tanpa berlandaskan ilmu dan petunjuk ilahi. Bahkan karena semata-mata taqlid kepada sebagian ahli bid’ah yang berseberangan dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Wallahul musta’an walaa haula walaa quwwata illa billah. Akan aku sajikan untuk kita sekjalian.
wahai pembaca–beberapa perkataan ahlul ilmi tentang masalah ini insya Allah. Berikut ini pernyataan para mufassir berkenaan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang  Al-Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir kerasukan setan lantaran penyakit gila.”  Ath-Thabari berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah orang yang kesurupan di dunia yang mana setan merasukinya hingga menjadi gila {Al-Imam Al-Baghawi berkata tentang makna al-massu: “Yaitu akalnya}.” gila/hilang akal. Seseorang disebut مَمْسُوْسٌ jika dia menjadi gila Al-Imam Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang pemakan atau rusak akalnya.” riba itu tidaklah dibangkitkan dari kubur mereka di hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yang kesurupan saat setan merasukinya yaitu berdiri dalam keadaan sempoyongan. Shahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: ‘Seorang pemakan riba akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan gila .’ . Seperti itu pula yang diriwayatkannya dari Auf bin Malik Sa’id bin Jubair As-Suddi Rabi’ bin Anas Qatadah dan  Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Di dalam ayat ini. Muqatil bin Hayyan .” terdapat argumen tentang rusaknya pendapat orang yang mengingkari adanya kesurupan jin. Juga argumen tentang rusaknya anggapan bahwa itu hanyalah proses alamiah yang terjadi pada tubuh manusia serta rusaknya anggapan bahwa setan tidak dapat merasuki tubuh manusia. Tapi terserahlah pada diri kita tentang pernyataan di atas, asalkan kita tidak mengingkari kuasa dan keesaan Allah.
”Perkataan para ahli tafsir yang semakna dengan ini cukup banyak. Barangsiapa yang mencari insya Allah akan mendapatkannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam kitabnya Idhah Ad-Dilalah Fi ‘Umumir Risalah Lits-tsaqalain yang terdapat dalam Majmu’ Fatawa –setelah berbicara beberapa hal– berkata: “Oleh karena itu sekelompok orang dari kalangan Mu’tazilah semacam Al-Jubba’i Abu Bakr Ar-Razi dan yang semisalnya mengingkari peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan namun tidak mengingkari adanya jin. Hal itu karena dalil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan tidak sejelas dalil yang menunjukkan tentang adanya jin walaupun sesungguhnya mereka itu keliru. Karena itu Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari menyebutkan dalam Maqalat Ahlis Sunnah Wal Jama’ah bahwasanya mereka {yakni Ahlus Sunnah} menyatakan: “Sesungguhnya jin itu dapat masuk ke dalam tubuh orang yang kesurupan sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut di atas:
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahumallahu berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang kesurupan.’Permasalahan ini telah dijelaskan secara panjang lebar pada tempatnya.”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam Majmu’ Fatawa juga mengatakan: “Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesepakatan salaful ummah {para pendahulu umat ini} dan para ulamanya. Demikian pula masuknya jin ke dalam tubuh manusia juga merupakan perkara yang benar sesuai dengan kesepakatan para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allah Subhanahu wa Ta’ala  tetang ayat tersebut di atas:
Di dalam kitab Ash-Shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:إِ
نَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan itu dapat berjalan pada tubuh anak cucu Adam melalui aliran darah.” {HR.Al-Bukhari Kitab Al-Ahkam no. 7171 dan Muslim Kitab As-Salam no. 2175} Apa yang Al-Imam Ahmad katakan ini adalah perkara yang masyhur. Sangat mungkin seseorang yang mengalami kesurupan berbicara dengan sesuatu yang tidak dipahaminya. Ketika tubuhnya dipukul dengan sekeras-kerasnya pun ia tidak merasakannya. Padahal bila pukulan itu ditimpakan kepada unta jantan niscaya akan kesakitan. Sebagaimana ia tidak menyadari pula apa yang diucapkannya. Seorang yang kesurupan terkadang dapat menarik tubuh orang lain yang sehat.
Dia juga dapat menarik alas duduk yang didudukinya serta dapat memindahkan berbagai macam benda dari satu tempat ke tempat yang lain dan sebagainya. Siapa saja yang menyaksikannya niscaya meyakini bahwa yang berbicara melalui mulut orang yang kesurupan itu dan yang menggerakkan benda-benda tadi bukanlah diri orang yang kesurupan tersebut. Tidak ada para imam yang mengingkari masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan. Barangsiapa mengklaim bahwa syariat ini telah mendustakan peristiwa tersebut berarti dia telah berdusta atas nama syariat. Dan sesungguhnya tidak ada dalil-dalil syar’i yang menafikannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad berkata: “Kesurupan ada dua macam yakni:
1. Kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh jahat yang ada di muka bumi ini.
2. Kesurupan yang disebabkan oleh gangguan fisik yang amat buruk.
Jenis kedua inilah yang dibahas oleh para dokter berikut faktor penyebab dan cara pengobatannya. Adapun kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh jahat para pemuka dan ahli kedokteran juga mengakui eksistensinya. Menurut mereka pengobatannya harus dengan roh-roh yang mulia lagi baik agar dapat melawan roh-roh yang jahat lagi jelek itu. Sehingga dapat mengatasi pengaruh-pengaruh buruknya bahkan dapat membatalkan tindak kejahatannya.
Terlebih bila keberadaannya dapat dibuktikan pula oleh panca indra dan realita. Berkenaan dengan klaim para dokter tersebut bahwa kesurupan itu diakibatkan oleh gangguan fisik memang bisa dibenarkan. Namun hal ini berlaku pada sebagian jenis kesurupan saja dan tidak secara keseluruhan.” “Kemudian datanglah para dokter dari kalangan zanadiqah yang tidak mengakui adanya kesurupan kecuali yang diakibatkan oleh gangguan fisik saja. Orang yang berakal dan mengetahui roh berikut gangguannya akan tertawa melihat kebodohan dan lemahnya akal mereka itu. Untuk mengobati kesurupan jenis ini perlu memperhatikan dua hal:
1.      Berkaitan dengan diri orang yang kesurupan itu sendiri.
2.      Berkaitan dengan orang yang mengobatinya.
Adapun yang berkaitan dengan diri orang yang kesurupan itu sendiri maka dengan kekuatan jiwanya dan kemantapannya dalam menghadap Pencipta roh-roh tersebut {yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala} serta kesungguhannya dalam meminta perlindungan kepada Allah yang berpadu antara hati dan lisannya. Karena kondisinya ibarat pertempuran yang mana seseorang tidak akan mampu menundukkan musuhnya dengan senjata yang dimilikinya kecuali bila terpenuhi dua hal: senjatanya benar-benar tajam dan ayunan tangannya benar-benar kuat. Di saat kurang salah satunya maka senjata itu pun kurang berfungsi. Lalu bagaimana jika tidak didapati kedua hal tersebut?! Di mana hatinya kosong dari tauhid tawakkal takwa dan kemantapan dalam menghadap Allah. Tentu lebih dari itu yakni dia tidak memiliki senjata.”Sedangkan yang berkaitan dengan orang yang mengobati dia pun harus memiliki dua hal yang telah disebutkan di atas. Sampai-sampai di antara orang yang mengobati itu ada yg cukup mengatakan : ‘Keluarlah darinya!’ atau ‘Bismillah’ atau ‘Laa haula wala quwwata illa billah.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah mengatakan: ‘Keluarlah wahai musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala! Aku adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Dari sedikit riwayat dan cerita para ahli tersebut, maka kita tentunya memiliki sedikit gambaran seperti apa dan bagaimana kesurupan itu sebenarnya. Namun hingga kini belum stupun ahli yang mampu membuktikan dan merilis tentang kesurupan secara ilmiah yang mampu diterima akal sehat dan dapat diteriam secra rasional.
Namun sesungguhnya akan semua dikembalikan kepada kita sekalian, hanya sedikit ingatan kepada kita sekalian bahwa kita memiliki Iman, Nabi, Al-Quran dan tentunya segalanya kita kembalikan kepada Allah SWT Zat yang patut kita yakini dan sembah, seperti apa dan bagaimana nantinya kita. Mari kita selalu ingatkan diri kita masing-masing tentang keimanan dan ketaqwaan kita. Jika kita memiliki iman dan ketaqaan, maka kesurupan hanyalah suatu fenomena yang patut kita percaya namun jangan sampai meyakini untuk kemudian akan menghantui setiap perjalanan hidup dalam berkehidupan kita.
Adapun kesimpulannya sebagai berikut:
1.      Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesepakatan salaful ummah dan para ulamanya.
2.      Masuknya jin ke dalam tubuh manusia benar pula adanya menurut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kesepakatan salaful ummah dan para ulamanya serta realita pun membuktikannya.
3.      Para pemuka dan ahli kedokteran pun mengakui adanya peristiwa kesurupan jin sebagaimana keterangan Al-Imam Ibnul Qayyim di atas. Sehingga barangsiapa mengklaim bahwasanya syariat ini telah mendustakan adanya kesurupan jin berarti dia telah berdusta atas nama syariat itu sendiri.
4.      Masuk Islamnya jin melalui seorang manusia diperbolehkan dalam syariat Islam. Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَََحَدٍ مِنْ بَعْدِي “Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku.” (coutesy: chm Darus Salaf 2)
Namun kesuruapan itu adalah Fenomena atau Lemahnya keimanan kita Wallahu a’lam

Salam Penulis buat kita sekalian !!!
Blog : www.kompasiana.com/ivan79 : www.ivan2tahir.blogspot.com 
twetter :  @Ivan_Tahir
Facebook : Ivan Tahir (Ambonesta)    
Masih banyak cerita kebenaran dan fiksi lainnya, Insya Allah akan kami bagikan sekedar sebagai info bagi kita sekalian…
Bíllahí taùfík walhídayah, Wassalamù’alaíkùm warahmatùllahí wabarakatùh

Tidak ada komentar :

Posting Komentar