Oleh : Ivan Tahir Hehanussa
Kesurupan masih mengundang perdebatan hingga saat
ini. Banyak Kalangan sebenarnya masih menolak dan tidak menerima kesurupan itu
sendiri. Mereka masih menolak dengan menggunakan alasan klasik yakni “tidak
bisa diterima akal”.Untuk itu saya mencoba membuka sedikit kajian guna
memberikan kesadaran kita bahwa syariat Islam sejatinya dibangun di atas dalil bukan
penilaian pribadi atau logika orang per orang.
Asal mulanya
Peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia masih menjadi teka-teki bagi
sebagian orang. Peristiwa yang kita kenal dengan istilah kesurupan atau
kerasukan ini sering kali menjadi polemik dan mengandung berbagai pertanyaan di
tengah masyarakat, hingga lahir banyak persepsi tentang kesurupan itu sendiri, bahkan
kontroversi sikap pun meruak dan bermunculan ke permukaan. Ada sebagian yang membenarkan fenomena tersebut dan ada pula yang
mengingkarinya karena tidak terjangkau secara akal sehatnya. Bahkan parahnya ada
yang menganggapnya sebagai suatu perbuatan dusta dan termasuk dari kemusrikan.
Akhir-akhir
ini kita sering mendengar dan melihat berita di berbagai media massa, baik media cetak maupun
elektronik tentang kesurupan masal, Bakhkan di sekeliling kita di Ambon,
kesurupan sering menimpa siswa SMA dan mahasiswa pada perguruan tinggi. SMA
Negeri 11 Ambon misalnya, tahun 2010 lalu, kesurupan masal terjadi di sekolah
yang berlokasi di Galunggung Tanah Rata itu. Puluhan siswa mengalami kesurupan
pada saat yang bersamaan. Kejadian tersebut bermula dari salah seorang siswi
yang konon katanya melihat sosok makhluk asing yang tidak dapat dijelaskan
seperti apa, yang jelas sosok yang menampakkan dirinya tersebut bukanlah
manusia biasa (keterangan salah seorang
siswa yang menjadi korban kesurupan).
Setelah
melihat sosok makhluk asing yang aneh tersebut, sang siswa akhirnya berteriak
histeris hingga menyebabkan kepanikan di dalam kelas, selang beberapa menit
kemudian, hampir seluruh siswa di dalam kelas tersebut berteriak histeris dan
tidak sadarkan diri yang berujuk pada peristiwa yang disebut kesurupan. Karena
banyak siswa yang telah mengalami kesurupan dan tidak dapat mengendalikan
dirinya, akhirnya pihak sekolah mengembalikan siswa-siswa tersebut kepada orang
tua mereka untuk menghindari kejadian yang lebih besar. Namun hingga kini tidak
ada penjelasan resmi dari pihak sekolah terkait kejadian tersebut, yang pada
akhirnya kejadian yang sempat menghebohkan warga sekitar itu masih misteri
hingga sekarang, karena dari pihak sekolah maupun para medis tidak memberikan
keterangan terkait dengan kejadian tersebut.
Pada tahun
2003, puluhan mahasiswa STAIN Ambon yang kini menjadi IAIN Ambon mengalami kesurupan
secara masal, yang menyebabkan kepanikan di wilayah Batu Merah Atas tersebut.
Namun hingga kini pihak kampus maupun mahasiswa sendiri belum mampu menjelaskan
secara ilmiah tentang kejadian itu. Selain itu masih banyak cerita yang kita
sendiri mengetahui dan mengalaminya di lingkungan kita sehari-hari.
Menurut laporan media tahun 2007,
dalam satu bulan, peristiwa kesurupan pernah terjadi di empat kota secara
berurutan: Yogyakarta (6/3), Surabaya (20/3), Banjarmasin (20/3), dan Bogor
(21/3). Bahkan, di tahun 2008 ini, tiga peristiwa kesurupan terjadi di hari
yang sama (25/11) di tiga kota: Jambi, Banjarmasin dan Malang. Di Jambi,
kesurupan dialami puluhan siswi SMK Negeri 4 Jambi. Seorang guru juga ikut terjangkit
kesurupan. Tiga hari sebelumnya peristiwa yang sama juga terjadi di sekolah
itu. Sementara di Banjarmasin, puluhan siswi SMA PGRI II Banjarmasin kesurupan
saat mengikuti pelajaran. Bahkan parahnya Kesurupan di sekolah tersebut telah
menjadi agenda rutin tiap tahun. Karena setiap tahun peristiwa serupa terus
terjadi.
Di Malang,
kesurupan masal terjadi di SMP PGRI I Pakisaji.Kesurupan justru terjadi saat
sekolah mengadakan ritual untuk mengusir roh jahat. Karena siswa di sekolah sekolah
tersebut memang sudah langganan menjadi korban kesurupan masal.
Di Padang,
menurut laporan Majalah Gatra (Edisi 51,
31 Oktober 2003) pernah terjadi kesurupan beruntun dan sepertinya terpola.
Mula-mula, pada bulan Juli, kesurupan menimpa 10 santriwati Pondok Pesantren Khairul Ummah, Tunggul Hitam. Sebulan
kemudian merambah ke Pesantren Tungkar, Luhak, Limapuluh Kota. Beberapa
santriwatinya mengalami kejadian yang sama. Lalu
pada bulan September, giliran Madrasah Aliyah Negeri 2 Payakumbuh yang
dihebohkan dengan kejadian serupa. Sedikitnya 11 siswi mengalami kesurupan
dengan gejala yang mirip. Oleh para Dewan Guru dan masyarakat setempat
mengatakan, kejadian tersebut merupakan kesurupan masal. Karena kejadian tersebut
memiliki proses yang sama, menimpa pada pelajar yang satu model, yakni
pesantren dan Madrasah Aliyah, atau pelajar Islam, sampai-sampai ada isu yang mengkait-kaitkan
kejadian dengan dengan upaya pemurtadan oleh pemeluk agama tertentu terhadap Umat
Islam, beruntunglah isu itu tidak sampai menimbulkan kerusuhan masal. Luar
biasa kan? Hehehe…….
Di Kota
Ambon, salah satu kasus yang menghebohkan masyarakat Maluku bahkan Indonesia,
karena jumlah korban pada kejadian tersebut berjumlah kurang lebih 800 orang, yang
pada akhirnya oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan Provinsi Maluku di
tetapkan sebagai kejadian Luar Biasa (KLB).
Agustus 2007,
saat itu Civitas Akademika IAIN Ambon sementara melaksanakan agenda akademiknya
yakni Orientasi Pengenalan Studi dan Akademik(OPAK). Di hari ketiga OPAK tersebut,
kurang lebih pukul 14.30 WIT, peserta sementara mengantre untuk mendapatkan
jatah makan siang usai melaksanakan ibadah Dzuhur. Setelah mendapatkan jatah
makan siang, peserta kembali mengikuti materi yang dilaksanakan di ruangan Aula
Kampus yang tidak jauh dari lokasi mereka mengantre makanan. Selang satu jam kemudian
setelah mengkonsumsi makan siang mereka, salah satu mahasiswa yang juga anggota
Unit Kegiatan Mahasiswa Umum (UKMU) yang saat itu bertindak sebagai Panitia OPAK, mengalami mual hingga
menyebabkan muntah-muntah.
Awalnya tim
kesehatan (Korps Sukarela Unit IAIN-red) kampus memperkirakan panitia OPAK tersebut
mual karena terlambat makan (penyakit mag),
namun karena kebanyakan muntah dan mengeluarkan cairan putih yang berbusah dari
mulutnya, akhirnya mereka memutuskan untuk memberikan obat alegri. Selang
beberapa menit kemudian, usai melasakanakan Ba’adah Ashar, peserta yang
sementara diarahkan panitia untuk berkumpul di lapangan utama kampus tersebut (lapangan
upacara-red) setelah peserta semua telah berkumpul di lapangan, mulailah
terdengar suara teriakan histeris. Awalnya hanya beberapa diantara ratusan
mahasiswa tersebut, namun akhirnya hampir seluruh peserta dan panitia mengalami
hal serupa. Mereka mengalami muntah-muntah yang diikuti teriakan histeris.
Puluhan
mahasiswa yang mengalami mual itu mulai mengalami kerasukan, teriakan yang
tidak karuan mulai terdengar di sana sini, hingga waktu menjelang Ba’dah Magrib
sudah tak lagi tercermin waktu sholat, karena banyaknya suara histris dan
tangisan yang mendominasi kampus berjuluk Kampus Hijau itu.
Kasus yang
oleh pemerintah Provinsi Maluku ditetapkan sebagai kasus KLB tersebut,
merupakan salah satu kasus terbesar pertama di Indonesia sepanjang sepuluh
tahun terakhir (catatan media massa).
Dalam kasus tersebut, lebih dari delapan ratus mahasiswa
menjadi korban keracunan makanan dan kerasukan…hehehe heboh bangeet kan???.
Akhir-akhir
ini, kita sering dikejutkan dengan berita kesurupan yang dialami sejumlah
pelajar di sekolah, yang kerap kita dengar, kejadian itu menimpa pelajar SMA
dan Mahasiswa perguruan tinggi dan kelompok karyawan juga ada, namun jarang
yang sifatnya massal. Fenomena apakah ini? Bahkan Saking “uniknya”,
sampai-sampai seorang wartawan yang meliput kejadian itu ikut-ikutan pula
kesurupan.
Sebagai muslim
sejati yang berupaya meniti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
para shahabatnya tentunya prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an
dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbeda pendapat’
haruslah selalu dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala
dalam kalam-Nya nan suci:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا““Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai.”
Al-Imam
Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita agar
berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya serta merujuk kepada keduanya
ketika terjadi perselisihan. Ia memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas
Al- Qur`an dan As-Sunnah secara keyakinan dan amalan…” Demikianlah timbangan
adil yang dijunjung tinggi oleh Islam. Berangkat dari sini maka saya brmaksud menyajikan
–di tengah-tengah kita sekalian beberapa sajian ilmiah berupa keterangan atau
fatwa dari Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu dan
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu seputar permasalahan
kesurupan atau kerasukan jin ini. Dengan harapan ini bisa menjadi pelita dalam
gelapnya permasalahan dan pembuka bagi cakrawala berpikir kita semua. Amiin ya
Rabbal ‘Alamin…
Penjelasan
Asy-Syaikh Abdul Azizbin Abdullah bin Baz rahimahullahuAsy-Syaikh Abdul Aziz
bin Abdullah bin Baz rahimahullahu
“Segala puji
hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Shalawat dan salam semoga
tercurahkan keharibaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluarganya
para shahabatnya dan orang-orang yg haus akan petunjuknya. Amma ba’du”
Pada bulan Sya’ban
tahun 1407 H sejumlah surat kabar lokal dan nasional telah memuat berita –ada yang
ringkas dan ada yang detail, tentang masuk Islamnya sejumlah jin di hadapanku
di kota Riyadh yang sedang merasuki tubuh salah seorang wanita muslimah.
Sebelumnya jin tersebut telah mengumumkan keislamannya di hadapan saudara
Abdullah bin Musyarraf Al-‘Amri seorang penduduk kota Riyadh. Setelah dibacakan
ayat-ayat Al-Qur`an kepada wanita yang kerasukan itu dan berdialog dengan jin
itu serta mengingatkan bahwa perbuatannya itu merupakan dosa besar dan
kedzaliman yang diharamkan saudara Abdullah pun menyuruhnya agar keluar dari
tubuh si wanita. Jin itu pun patuh kemudian menyatakan keislamannya di hadapan
saudara Abdullah ini. Abdullah dan para wali wanita itu ingin membawa si wanita
kepadaku agar aku turut menyaksikan keislaman jin tersebut. Mereka pun datang
kepadaku. Aku menanyai jin tersebut tentang sebab-sebab dia masuk ke dalam
tubuh si wanita. Dia pun menceritakan kepadaku beberapa faktor penyebabnya. Dia
berbicara melalui mulut si wanita itu akan tetapi suaranya adalah suara seorang
laki-laki dan bukan suara wanita yang ketika itu sedang duduk di kursi
bersama-sama dengan saudara laki-lakinya saudara perempuannya dan Abdullah bin
Musyarraf yang tidak jauh dari tempat dudukku. Sebagian masyayikh pun
menyaksikan kejadian ini dan mendengarkan secara langsung ucapan jin tersebut yang
telah menyatakan keislamannya. Dia menjelaskan bahwa asalnya dari India dan
beragama Budha. Aku pun menasehatinya dan berwasiat kepadanya agar bertakwa
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memintanya keluar dari tubuh si wanita
serta tidak menzaliminya. Dia pun menyambut ajakanku itu seraya mengatakan:
“Aku merasa puas dengan agama Islam.”Aku wasiatkan pula kepadanya agar mengajak
kaumnya untuk masuk Islam setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya hidayah.
Dia menjanjikan hal itu lalu ia pun keluar dari tubuh si wanita. Ucapan
terakhir yang dia katakan ketika itu: “Assalamu’alaikum”. Setelah itu barulah
si wanita mulai berbicara dengan suara aslinya dan benar-benar merasakan
kesembuhan serta kebugaran pada tubuhnya.
Selang
sebulan atau lebih si wanita ini datang kembali kepadaku bersama dua saudara
laki-laki paman dan saudarinya. Dia mengabarkan bahwa keadaannya sehat wal
afiat dan syukur alhamdulillah jin itu tidak mendatanginya lagi. Aku bertanya
kepada wanita tersebut tentang kondisinya saat kemasukan jin. Dia menjawab
bahwa saat itu merasa selalu dihantui oleh pikiran- pikiran kotor yang
bertentangan dengan syariat. Pikirannya selalu condong kepada Agama Budha serta
antusias untuk mempelajari buku-buku agama tersebut. Kini setelah Allah
Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya dari gangguan jin tersebut sirnalah
berbagai pikiran yang menyimpang itu. Kemudian sampailah berita kepadaku bahwa
Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi mengingkari peristiwa ini seraya menyatakan bahwa
ini adalah penipuan dan kedustaan. Bisa jadi itu rekayasa rekaman yang dibawa
oleh si wanita dan bukan dari ucapan jin sama sekali. {Seketika itu juga}
kuminta kaset rekaman tentang dialogku dengan jin tersebut. Setelah kudengarkan
secara seksama aku pun yakin bahwa suara itu adalah suara jin. Sungguh aku
sangat heran dengan pernyataan yang dilontarkan Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi
bahwa itu adalah rekayasa rekaman belaka. Karena aku berulang kali mengajukan
pertanyaan kepada jin tersebut dan dia pun selalu menjawabnya. Bagaimana
mungkin akal sehat bisa membenarkan adanya sebuah tape/ alat rekam yang bisa
ditanya dan bisa menjawab?! Sungguh ini merupakan kesalahan fatal dan statement
yang sulit untuk diterima. Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi juga menyatakan bahwa
masuk Islamnya seorang jin oleh seorang manusia bertentangan dengan firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:
وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَََحَدٍ مِنْ بَعْدِي
“Dan
anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku.”
Tidak diragukan lagi pernyataan di atas merupakan kesalahan dan pemahaman yang
keliru semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya hidayah. Masuk Islamnya
seorang jin oleh manusia tidaklah menyelisihi doa Nabi Sulaiman .
Karena
sungguh telah banyak jin yang masuk Islam melalui Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
dalam surat Al-Ahqaf dan Al-Jin. Demikian pula telah disebutkan dalam Shahih
Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ عَرَضَ لِي فَشَّدَ عَلَيَّ لِيَقْطَعَ الصَّلاَةَ عَلَيَّ فَأَمْكَنَنِيَ اللهُ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أُوْثِقَهُ إِلَى سَارِيَةٍ حَتَّى تُصْبِحُوا فَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ فَذَكَرْتُ قَوْلَ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ، فَرَدَّهُ اللهُ خَاسِيًا. هَذَا لَفْظُ الْبُخَارِي
“Sesungguhnya
setan telah menampakkan diri di hadapanku untuk memutus shalatku. Namun Allah
Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapinya {baca: mengalahkannya} sehingga aku
dapat mendorongnya dengan kuat. Sungguh sebenarnya aku ingin mengikatnya di
sebuah tiang hingga kalian dapat menontonnya di pagi harinya. Tapi aku teringat
akan ucapan saudaraku Nabi Sulaiman ‘alaihissalam: ‘Ya Rabbi anugerahkanlah
kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah
mengusirnya dalam keadaan hina.”Demikianlah lafadz yang diriwayatkan Al-Imam
Al-Bukhari. Adapun lafadz Al- Imam Muslim adl sebagai berikut:
إِنَّ عِفْرِيْتًا مِنَ الْجِنِّ جَعَلَ يَفْتِكُ عَلَيَّ الْبَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ وَإِنَّ اللهَ أَمْكَنَنِيْ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ فَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى جَنْبِ سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا تَنْظُرُونَ إِلَيْهِ أَجْمَعُونَ أَوْ كُلُّكُمْ ثُمَّ ذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِيْ سُلَيْمَانَ فَرَدَّهُ اللهُ خَاسِئًا
“Sesungguhnya
‘Ifrit dari kalangan jin telah menampakkan diri di hadapanku tadi malam untuk
memutus shalatku. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan kepadaku
untuk menghadapinya sehingga aku dapat mendorongnya dengan kuat.
Para pembaca
yang budiman, peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia hingga membuatnya
kesurupan telah ada keterangannya di dalam Kitabullah Sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma’ umat ini. Maka tidak bisa dibenarkan
bagi orang yang tergolong intelek untuk mengingkarinya tanpa berlandaskan ilmu
dan petunjuk ilahi. Bahkan karena semata-mata taqlid kepada sebagian ahli
bid’ah yang berseberangan dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Wallahul musta’an
walaa haula walaa quwwata illa billah. Akan aku sajikan untuk kita sekjalian.
wahai
pembaca–beberapa perkataan ahlul ilmi tentang masalah ini insya Allah. Berikut
ini pernyataan para mufassir berkenaan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
“Orang-orang
yang makan riba itu tidaklah berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang Al-Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir kerasukan setan
lantaran penyakit gila.” Ath-Thabari
berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah orang yang kesurupan di
dunia yang mana setan merasukinya hingga menjadi gila {Al-Imam Al-Baghawi
berkata tentang makna al-massu: “Yaitu akalnya}.” gila/hilang akal. Seseorang
disebut مَمْسُوْسٌ jika dia menjadi gila Al-Imam Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang
pemakan atau rusak akalnya.” riba itu tidaklah dibangkitkan dari kubur mereka
di hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yang kesurupan saat setan
merasukinya yaitu berdiri dalam keadaan sempoyongan. Shahabat Abdullah bin
‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: ‘Seorang pemakan riba akan dibangkitkan di
hari kiamat dalam keadaan gila .’ . Seperti itu pula yang diriwayatkannya dari
Auf bin Malik Sa’id bin Jubair As-Suddi Rabi’ bin Anas Qatadah dan Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Di dalam ayat
ini. Muqatil bin Hayyan .” terdapat argumen tentang rusaknya pendapat orang yang
mengingkari adanya kesurupan jin. Juga argumen tentang rusaknya anggapan bahwa
itu hanyalah proses alamiah yang terjadi pada tubuh manusia serta rusaknya
anggapan bahwa setan tidak dapat merasuki tubuh manusia. Tapi terserahlah pada
diri kita tentang pernyataan di atas, asalkan kita tidak mengingkari kuasa dan
keesaan Allah.
”Perkataan
para ahli tafsir yang semakna dengan ini cukup banyak. Barangsiapa yang mencari
insya Allah akan mendapatkannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu
dalam kitabnya Idhah Ad-Dilalah Fi ‘Umumir Risalah Lits-tsaqalain yang terdapat
dalam Majmu’ Fatawa –setelah berbicara beberapa hal– berkata: “Oleh karena itu
sekelompok orang dari kalangan Mu’tazilah semacam Al-Jubba’i Abu Bakr Ar-Razi
dan yang semisalnya mengingkari peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang
yang kesurupan namun tidak mengingkari adanya jin. Hal itu karena dalil dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peristiwa masuknya jin ke
dalam tubuh orang yang kesurupan tidak sejelas dalil yang menunjukkan tentang
adanya jin walaupun sesungguhnya mereka itu keliru. Karena itu Al-Imam Abul
Hasan Al-Asy’ari menyebutkan dalam Maqalat Ahlis Sunnah Wal Jama’ah bahwasanya
mereka {yakni Ahlus Sunnah} menyatakan: “Sesungguhnya jin itu dapat masuk ke
dalam tubuh orang yang kesurupan sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
tersebut di atas:
Abdullah bin
Ahmad bin Hanbal rahimahumallahu berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku:
‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat
masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku mereka itu
berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang
kesurupan.’Permasalahan ini telah dijelaskan secara panjang lebar pada
tempatnya.”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam Majmu’ Fatawa juga
mengatakan: “Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Kitabullah dan
Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesepakatan salaful ummah
{para pendahulu umat ini} dan para ulamanya. Demikian pula masuknya jin ke
dalam tubuh manusia juga merupakan perkara yang benar sesuai dengan kesepakatan
para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allah Subhanahu wa Ta’ala tetang ayat tersebut di atas:
Di dalam
kitab Ash-Shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:إِ
نَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya
setan itu dapat berjalan pada tubuh anak cucu Adam melalui aliran darah.”
{HR.Al-Bukhari Kitab Al-Ahkam no. 7171 dan Muslim Kitab As-Salam no. 2175} Apa
yang Al-Imam Ahmad katakan ini adalah perkara yang masyhur. Sangat mungkin
seseorang yang mengalami kesurupan berbicara dengan sesuatu yang tidak
dipahaminya. Ketika tubuhnya dipukul dengan sekeras-kerasnya pun ia tidak
merasakannya. Padahal bila pukulan itu ditimpakan kepada unta jantan niscaya
akan kesakitan. Sebagaimana ia tidak menyadari pula apa yang diucapkannya.
Seorang yang kesurupan terkadang dapat menarik tubuh orang lain yang sehat.
Dia juga
dapat menarik alas duduk yang didudukinya serta dapat memindahkan berbagai
macam benda dari satu tempat ke tempat yang lain dan sebagainya. Siapa saja yang
menyaksikannya niscaya meyakini bahwa yang berbicara melalui mulut orang yang
kesurupan itu dan yang menggerakkan benda-benda tadi bukanlah diri orang yang
kesurupan tersebut. Tidak ada para imam yang mengingkari masuknya jin ke dalam
tubuh orang yang kesurupan. Barangsiapa mengklaim bahwa syariat ini telah
mendustakan peristiwa tersebut berarti dia telah berdusta atas nama syariat.
Dan sesungguhnya tidak ada dalil-dalil syar’i yang menafikannya.
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah-Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad Fi Hadyi
Khairil ‘Ibad berkata: “Kesurupan ada dua macam yakni:
1. Kesurupan
yang disebabkan oleh gangguan roh jahat yang ada di muka bumi ini.
2. Kesurupan
yang disebabkan oleh gangguan fisik yang amat buruk.
Jenis kedua
inilah yang dibahas oleh para dokter berikut faktor penyebab dan cara
pengobatannya. Adapun kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh jahat para
pemuka dan ahli kedokteran juga mengakui eksistensinya. Menurut mereka
pengobatannya harus dengan roh-roh yang mulia lagi baik agar dapat melawan
roh-roh yang jahat lagi jelek itu. Sehingga dapat mengatasi pengaruh-pengaruh
buruknya bahkan dapat membatalkan tindak kejahatannya.
Terlebih bila
keberadaannya dapat dibuktikan pula oleh panca indra dan realita. Berkenaan dengan
klaim para dokter tersebut bahwa kesurupan itu diakibatkan oleh gangguan fisik
memang bisa dibenarkan. Namun hal ini berlaku pada sebagian jenis kesurupan
saja dan tidak secara keseluruhan.” “Kemudian datanglah para dokter dari
kalangan zanadiqah yang tidak mengakui adanya kesurupan kecuali yang
diakibatkan oleh gangguan fisik saja. Orang yang berakal dan mengetahui roh
berikut gangguannya akan tertawa melihat kebodohan dan lemahnya akal mereka
itu. Untuk mengobati kesurupan jenis ini perlu memperhatikan dua hal:
1. Berkaitan dengan
diri orang yang kesurupan itu sendiri.
2. Berkaitan dengan
orang yang mengobatinya.
Adapun yang
berkaitan dengan diri orang yang kesurupan itu sendiri maka dengan kekuatan
jiwanya dan kemantapannya dalam menghadap Pencipta roh-roh tersebut {yakni
Allah Subhanahu wa Ta’ala} serta kesungguhannya dalam meminta perlindungan kepada
Allah yang berpadu antara hati dan lisannya. Karena kondisinya ibarat
pertempuran yang mana seseorang tidak akan mampu menundukkan musuhnya dengan
senjata yang dimilikinya kecuali bila terpenuhi dua hal: senjatanya benar-benar
tajam dan ayunan tangannya benar-benar kuat. Di saat kurang salah satunya maka
senjata itu pun kurang berfungsi. Lalu bagaimana jika tidak didapati kedua hal
tersebut?! Di mana hatinya kosong dari tauhid tawakkal takwa dan kemantapan
dalam menghadap Allah. Tentu lebih dari itu yakni dia tidak memiliki
senjata.”Sedangkan yang berkaitan dengan orang yang mengobati dia pun harus
memiliki dua hal yang telah disebutkan di atas. Sampai-sampai di antara orang yang
mengobati itu ada yg cukup mengatakan : ‘Keluarlah darinya!’ atau ‘Bismillah’
atau ‘Laa haula wala quwwata illa billah.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
pun pernah mengatakan: ‘Keluarlah wahai musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala! Aku adalah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Dari sedikit
riwayat dan cerita para ahli tersebut, maka kita tentunya memiliki sedikit
gambaran seperti apa dan bagaimana kesurupan itu sebenarnya. Namun hingga kini
belum stupun ahli yang mampu membuktikan dan merilis tentang kesurupan secara
ilmiah yang mampu diterima akal sehat dan dapat diteriam secra rasional.
Namun
sesungguhnya akan semua dikembalikan kepada kita sekalian, hanya sedikit
ingatan kepada kita sekalian bahwa kita memiliki Iman, Nabi, Al-Quran dan
tentunya segalanya kita kembalikan kepada Allah SWT Zat yang patut kita yakini
dan sembah, seperti apa dan bagaimana nantinya kita. Mari kita selalu ingatkan
diri kita masing-masing tentang keimanan dan ketaqwaan kita. Jika kita memiliki
iman dan ketaqaan, maka kesurupan hanyalah suatu fenomena yang patut kita
percaya namun jangan sampai meyakini untuk kemudian akan menghantui setiap
perjalanan hidup dalam berkehidupan kita.
Adapun
kesimpulannya sebagai berikut:
1. Keberadaan
jin merupakan perkara yang benar menurut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesepakatan salaful ummah dan para
ulamanya.
2. Masuknya jin
ke dalam tubuh manusia benar pula adanya menurut Al-Qur`an dan Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kesepakatan salaful ummah dan para
ulamanya serta realita pun membuktikannya.
3. Para pemuka
dan ahli kedokteran pun mengakui adanya peristiwa kesurupan jin sebagaimana
keterangan Al-Imam Ibnul Qayyim di atas. Sehingga barangsiapa mengklaim
bahwasanya syariat ini telah mendustakan adanya kesurupan jin berarti dia telah
berdusta atas nama syariat itu sendiri.
4. Masuk
Islamnya jin melalui seorang manusia diperbolehkan dalam syariat Islam. Hal ini
sama sekali tidak bertentangan dengan doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَََحَدٍ مِنْ بَعْدِي “Dan
anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku.” (coutesy: chm Darus Salaf 2)
Namun kesuruapan
itu adalah Fenomena atau Lemahnya keimanan kita Wallahu a’lam
Salam Penulis buat kita sekalian !!!
Blog : www.kompasiana.com/ivan79 : www.ivan2tahir.blogspot.com
twetter : @Ivan_Tahir
Facebook : Ivan Tahir (Ambonesta)
Masih
banyak cerita kebenaran dan fiksi lainnya, Insya Allah akan kami bagikan
sekedar sebagai info bagi kita sekalian…twetter : @Ivan_Tahir
Facebook : Ivan Tahir (Ambonesta)
Bíllahí taùfík walhídayah, Wassalamù’alaíkùm warahmatùllahí wabarakatùh
Tidak ada komentar :
Posting Komentar